Tinggalkan komentar

BIRRUL WALIDAIN (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)

Oleh : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Berikut adalah tulisan ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafidzahullahu yang disalin dari Kitab beliau Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua ,terbitan Darul Qolam –
Jakarta.


Pada hakekatnya seorang anak harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Meski orang tua masih dalam keadaan musyrik mereka tetap mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari anak-anaknya.

Berbuat baik kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada fardhu kifayah dan amalan-amalan sunnah lainnya. Berbuat baik kepada kedua orang tua didahulukan daripada berjihad dan hijrah di jalan Allah. Berbuat baik kepada orang tua harus didahulukan dari pada kepada istri dan anak-anak.Berbuat baik kepada kedua orang tua tidak berarti harus meninggalkan kewajiban terhadap istri dan anak-anaknya. Kewajiban memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak tetap dipenuhi walaupun kepada kedua orang tuanya harus didahulukan.Imam Qurthubi secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti kepada kedua orang tua hendaknya seorang anak menyetujui apa yang dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang tua. Fudlail bin Iyadl berkata, "Janganlah engkau mencegah apa-apa yang disenangi keduanya" Ketika ditanya bagaimana tentang berbakti kepada kedua orang tua, Fudlail menjawab, "Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan malas"Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata, "Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk" [1] Artinya, orang tua dipersilahkan duduk terlebih dahulu.Tidak boleh berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bermaksiat keada Allah. Apabila orang tua menyuruh melakukan sesuatu yang haram atau mencegah dari perbuatan yang wajib, maka tidak boleh ditaati. Bahwa orang yang paling baik untuk kita jadikan teman dan sahabat karib selama-lamanya adalah orang tua sendiri.Harta yang dimiliki seorang anak pada hakekatnya adalah milik orang tua. Sebagaimana telah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, "Ya Rasulullah, orang tua saya telah mengambil harta saya" kemudian Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam memarahi orang tersebut dan berkata, "Kamu dan hartamu milik bapakmu" [2]. Berikan kepada orang tua apa yang ada pada kita yang pada hakekatnya adalah milik orang tua. Karena kita bisa berusaha, bekerja dan mendapat gaji, mendapatkan ma’isyah (mata pencaharian), karena sebab orang tua yang melahirkan dan mendidik kita.Kalau keduanya sudah meninggal, tetap berbuat baik dengan mendo’akan, menyambung tali silaturahmi kepada teman-teman orang tua yang disambung oleh keduanya.Untuk menjadikan anak shalih berbakti kepada orang tua, bergantung dari pendidikan orang tua terhadap anaknya. Kalau ingin memiliki anak yang berbakti kepada kedua orang tua, tidak boleh meninggalkan pendidikan. Cara mendidiknya supaya menjadi anak yang shalih, anak yang taat kepada Allah dan RasulNya serta taat kepada kedua orang tuanya. Sejak kecil dididik dengan mentauhidkan Allah, diajarkan Al-Qur’an, sunnah Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, diajarkan cinta kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga diajarkan tentang shalat.Seandainya sekarang ini ada anak yang durhaka kepada orang tuanya, kemudian orang tua ini menyesal dan bersedih, mungkin dahulu dia pernah berbuat durhaka kepada orang tuanya sehingga sekarang dibalas oleh anak-anaknya.
Ada riwayat yang masih perlu diperiksa, menyebutkan, "Hendaklah kalian berbuat baik kepada orang tua kalian niscaya anak kalian akan berbuat baik kepada kalian" Jadi dengan berbuat baik kepada orang tua, insya Allah anak-anak akan berbuat baik kepadanya. Tetapi kalau durhaka kepada orang tua, anak-anakpun akan durhaka kepadanya.
Hendaklah memperhatikan kedua orang tua seumur hidup dan jangan merasa lelah, capek, maupun letih, dalam berbakti kepada keduanya sebagaimana kita tidak capek dan letih dalam taat kepada Allah.Kalau selama ini pernah durhaka kepada orang tua, segeralah minta ma’af dan berbuat baik kepada keduanya. Jangan mengulangi lagi dan bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya baik laki-laki maupun yang perempuan. Mohon ampun dan bertaubat kepada Allah kemudian merubah sikap. Seandainya kedua orang tua sudah meninggal mohon ampun kepada Allah dan mendo’akannya dan bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya, menyambung silaturahmi dengan teman-teman kedua orang tua.Kalau ingin bahagia dan mendapat berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diluaskan rizki serta dipanjangkan umur dan dimudahkan segala urusan, dimasukkan ke dalam surga maka harus terus berbuat baik kepada orang tua. Jangan lupakan semua yang pernah diberikan kedua orang tua karena semua kebaikan mereka tidak dapat dihitung dengan apapun juga.Maraji’

  1. Al-Qur’an Al-Karim dan terjemahannya
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Shahih Bukhari
  4. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani
  5. Shahih Muslim
  6. Sunan Tirmidzi
  7. Sunan Abu Daud
  8. Sunan Nasa’i
  9. Sunan Ibnu Majah
  10. Mustadrak Hakim
  11. Majma’uz Zawaid wal Manbaul Fawaid, Abu Bakar Al-Haitsami, tahrij Al-Iraqi dan Ibnu Hajar
  12. Al-Muhalla, Ibnu Hazm
  13. Al-Kabaair, Imam Adz-Dzahabi
  14. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  15. Al-Maudluu’at, Ibnul Jauzi
  16. Riyadus Shalihin, Imam Nawawi
  17. Syarah Musykilul Atsar, Imam Ath-Thahawi, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth.
  18. Silsilah Ahadist As-Shahihah, Syaikh Imam Al-Albani
  19. Silsilah Ahadits Ad-Dlaifah, Syaikh Imam Al-Albani
  20. Shahih Jaami’ush Shagir, Syaikh Imam Al-Albani
  21. Irwaul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabiil, Syaikh Imam Al-Albani
  22. Shahih At-Targhib wa Tarhib, Syaikh Imam Al-Albani
  23. Shahih Al-Adabul Mufrad, Syaikh Imam Al-Albani
  24. Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah, Syaikh Imam Al-Albani
  25. Ahkamul Janaiz, Syaikh Imam Al-Albani
  26. Misykatul Mashabiih, Syaikh Imam Al-Albani
  27. Bahjatun Nadlirin Syarah Riyadush Shalihin, Syaikh Salim bin Id Al-Hilaly
  28. Masail min Fiqhil Kitab wa Sunnah, Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar, cet. I th.1414H, Daarun Nafaais
  29. Birrul Walidaian fi Qur’anil Karim wa Ahaadits Ash-Shahihah, Nidzam Sakkajeha, cet.VI th1413H, Maktabah Islamy
  30. Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Al-A’zam fi Abawaiy Rasul A’alaihissalatu wa salaam, Al-Alamah ’Aly bin Sulthan bin Muhammad Al-Qari (wafat th 1014H), tahqiq Syaikh Mansyur bin Hasan bin Salman, cet. I th.1413H, Maktabah Al-Ghuraba Al-Atsariyah

Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam –
Jakarta.

Foote Note.

  1. Shahih Al-Adabul Mufrad no. 32
  2. Hadits Riwayat Ibnu Majah 2291 (Shahih Ibnu Majah no. 1855) Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar 4/277 no. 1598 (Shahih Musykilul Atsar Imam Ath-Thahawi tahqiq Syu’aib Al-Arnauth

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: